Selasa, 25 Agustus 2009

Sholat Tarawih berapa roka'at?

Rasulullah saw menganjurkan kepada kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Nabi saw. Sangat mengajurkan qiyam ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Kemudian Nabi saw. Bersabda, “Siapa yang mendirikan shalat di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (muttafaq alaih)

Dan fakta sejarah memberi bukti, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam secara turun temurun mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Alhamdulillah. Tapi sayang, dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan di beberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat. Seharusnya itu tak boleh terjadi jika umat tahu sejarah disyariatkannya shalat tarawih.

Pada awalnya shalat tarawih dilaksanakan Nabi saw. dengan sebagian sahabat secara berjamaah di Masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi membiarkan para sahabat melakukan tarawih secara sendiri-sendiri. Hingga dikemudian hari, ketika menjadi Khalifah, Umar bin Khattab menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih terpencar-pencar di dalam Masjid Nabawi. Terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar memerintahkan Ubay bin Kaab untuk memimpin para sahabat melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Untuk selengkapnya silahkan lihat Al-Lu’lu War Marjan: 436. berdasarkan riwayat itulah kemudian para ulama sepakat menetapkan bahwa shalat tarawih secara berjamaah adalah sunnah.

Bahkan, para wanita pun dibolehkan ikut berjamaah di masjid, padahal biasanya mereka dianjurkan untuk melaksanakan shalat wajib di rumah masing-masing. Tentu saja ada syarat: harus memperhatikan etika ketika di luar rumah. Yang pasti, jika tidak ke masjid ia tidak berkesempatan atau tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah, maka kepergiannya ke masjid tentu akan memperoleh kebaikan yang banyak.

Jumlah Rakaat

Berapa rakaat shalat tarawih para sahabat yang diimami oleh Ubay bin Kaab? Hadits tentang kisah itu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak menjelaskan hal ini. Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Hanya menyebut Rasulullah saw. shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat selama tiga malam. Berapa rakaatnya, tidak dijelaskan. Hanya ditegaskan bahwa tidak ada perbedaan jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Jadi, hadits ini konteksnya lebih kepada shalat malam secara umum. Maka tak heran jika para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk shalat malam secara umum. Misalnya, Iman Bukhari memasukkan hadits ini ke dalam Bab Shalat Tahajjud. Iman Malik di Bab Shalat Witir Nabi saw. (Lihat Fathul Bari 4/250 dan Muwattha’ 141).

Inilah yang kemudian memunculkan perbedaan jumlah rakaat. Ada yang menyebut 11, 13, 21, 23, 36, bahkan 39. Ada yang berpegang pada hadits ‘Aisyah dalam Fathul Bari, “Nabi tidak pernah melakuka shalat malam lebih dari 11 rakaat baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.”

Sebagian berpegang pada riwayat bahwa Umar bin Khattab –seperti yang tertera di Muwattha’ Imam Malik—menyuruh Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dari untuk melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat dengan rakaat-rakaat yang panjang. Namun dalam riwayat Yazid bin Ar-Rumman dikabarkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilaksanakan di zaman Umar adalah 23 rakaat.

Dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa Umar, Ali, dan sahabat lainnya melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat selain witir. Pendapat ini didukung Imam At-Tsauri, Imam Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i.

Di Fathul Bari ditulis bahwa di masa Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin shalat tarawih hingga 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Imam Malik berkata bahwa hal itu telah lama dilaksanakan.

Masih di Fathul Bari, Imam Syafi’i dalam riwayat Az-Za’farani mengatakan bahwa ia sempat menyaksikan umat Islam melaksanakan shalat tarawih di Madinah dengan 39 rakaat dan di Makkah 33 rakaat. Menurut Imam Syafi’i, jumlah rakaat shalat tarawih memang memiliki kelonggaran.

Dari keterangan di atas, jelas akar persoalan shalat tarawih bukan pada jumlah rakaat. Tapi, pada kualitas rakaat yang akan dikerjakan. Ibnu Hajar berkata, “Perbedaan yang terjadi dalam jumlah rakaat tarawih mucul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Jika dalam mendirikannya dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka berakibat pada sedikitnya jumlah rakaat; dan demikian sebaliknya.”

Imam Syafi’i berkata, “Jika shalatnya panjang dan jumlah rakaatnya sedikit itu baik menurutku. Dan jika shalatnya pendek, jumlah rakaatnya banyak itu juga baik menurutku, sekalipun aku lebih senang pada yang pertama.” Selanjutnya beliau mengatakan bahwa orang yang menjalankan tarawih 8 rakaat dengan 3 witir dia telah mencontoh Rasulullah, sedangkan yang menjalankan tarawih 23 rakaat mereka telah mencontoh Umar, generasi sahabat dan tabi’in. Bahkan, menurut Imam Malik, hal itu telah berjala lebih dari ratusan tahun.

Menurut Imam Ahmad, tidak ada pembatasan yang signifikan dalam jumlah rakaat tarawih, melainkan tergantung panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Imam Az-Zarqani mengkutip pendapat Ibnu Hibban bahwa tarawih pada mulanya 11 rakaat dengan rakaat yang sangat panjang, kemudian bergeser menjadi 20 rakaat tanpa witir setelah melihat adanya fenomena keberatan umat dalam melaksanakannya. Bahkan kemudian dengan alasan yang sama bergeser menjadi 36 rakaat tanpa witir (lihat Hasyiyah Fiqh Sunnah: 1/195)

Jadi, tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk memperselisihkan jumlah rakaat. Semua sudah selesai sejak zaman sahabat. Apalagi perpecahan adalah tercela dan persatuan umat wajib dibina. Isu besar dalam pelaksanaan shalat tarawih adalah kualitas shalatnya. Apakah benar-benar kita bisa memanfaatkan shalat tarawih menjadi media yang menghubungkan kita dengan Allah hingga ke derajat ihsan?

Cara Melaksanakan Tarawih

Hadits Bukhari yang diriwayatkan Aisyah menjelaskan cara Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam adalah dengan tiga salam. Jadi, dimulai dengan 4 rakaat yang sangat panjang lalu ditambah 4 rakaat yang panjang lagi kemudian disusul 3 rakaat sebagai witir (penutup).

Boleh juga dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Ini berdasarkan cerita Ibnu Umar bahwa ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang cara Rasulullah saw. mendirikan shalat malam. Rasulullah saw. menjawab, “Shalat malam didirikan dua rakaat dua rakaat, jika ia khawatir akan tibanya waktu subuh maka hendaknya menutup dengan satu rakaat (muttafaq alaih, lihat Al-Lu’lu War Marjan: 432). Rasulullah saw. sendiri juga melakukan cara ini (lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47 dan Muwattha’: 143-144).

Dari data-data di atas, Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Rasulullah saw. kadang melakukan witir dengan satu rakaat dan kadang tiga rakaat.

Jadi, sangat tidak pantas jika perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih menjadi isu yang pemecah persatuan umat. []

Ust. M. Bugi (www.dakwatuna.com)

Hadits 23

Abu Malik Al-Harits bin Harits Al-Asy'ari ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Kesucian itu sebagian dari iman, dan dzikir alhamdulillah memenuhi timbangan, dan subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi ruang antara langit dan bumi. Sholat itu adalah sinar, dan sedekah itu adalah bukti yang jelas, dan kesabaran adalah cahaya, dan Al-Qur'an adalah hujjah - untuk membelamu atau menjatuhkanmu. Setiap manusia adalah bekerja, maka ada yang menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya, ada pula yang menghancurkan dirinya."
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Setan Baik Hati

Cerita ini saya dapati dari dosen saya yang berasal dari Syiria, beliau bercerita:
Dikisahkan seorang hamba yang sholeh sangat rajin beribadah. Ia selalu berusaha menepati waktu sholatnya dengan berjama'ah di masjid, terlebih sholat isya dan shubuh - karena dua waktu sholat inilah yang amat berat dikerjakan oleh orang-orang munafik - hingga memaksa para syaithan harus bekerja ekstra keras jika ingin melunturkan ketaatannya pada Sang Pencipta.
Pagi itu, seperti biasa ia telah siap pergi ke masjid agar dapat berjama'ah shubuh bersama kaum muslimin. Namun tiba-tiba hujan turun dan mendung menjadikan gelap pandangan pagi itu. Tapi itu semua tidaklah menciutkan tekad seorang hamba yang hatinya telah terbakar cinta kepada Allah dan RasulNya, ia pun keluar menuju masjid.
Di tengah perjalanan, tanpa ia duga badannya terjembab ke tanah berlumpur setelah kakinya tersandung. Lalu apa yang ia lakukan?
Begitu sabar dan semangatnya ia kembali untuk mengganti pakaian dan segera kembali menuju masjid. Namun untuk yang ke dua kalinya ia terjatuh di tempat yang sama. Kali ini semangatnya kian kuat untuk tak tertinggal 27 derajat keutamaan sholat berjama'ah. Ia kembali untuk mengganti pakaian dan segera menuju masjid.
Dan kali ini ketika ia melintas di tempat ia terjatuh semula, tampaklah sesosok lelaki yang sudah tua dengan pelita di tangannya seraya berkata,"Mari ikuti saya, jangan sampai engkau terjatuh lagi."
Berjalanlah orang sholeh di belakang sang kakek sampai masjid. Mamun sayang, sholat telah usai didirikan.
Ia berkata kepada sang kakek,"Kalau begitu mari kita berdua sholat berjama'ah."
"Tidak!" jawab kakek. "Silakan sholat sendiri."
"Bukankah anda pergi bersama saya sehingga anda juga belum sholat shubuh?" ia bertanya agak heran.
"Aku tidak akan pernah sholat, selamanya." kakek menjawabnya.
Ia pun semakin tidak mengerti, mengapa kakek itu enggan sholat? Siapa dia?
Lantas kakek menjelaskan," Aku adalah syaitan."
Terperanjatlah ia dan bertanya,"Lalu mengapa engkau menolongku?"
Syaitan berkata,"Sudah sejak lama aku ingin menggodamu tapi selalu tidak berhasil. Pagi ini aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sebenarnya ketika engkau jatuh pertama kali, adalah aku memegang kakimu dengan tanah lumpur. Aku berharap engkau akan pulang dan meninggalkan sholat berjama'ah. Tapi ketika engkau kembali mengganti pakaianmu dan memutuskan untuk tetap pergi menghadiri jama'ah, ternyata Allah mengampuni dosamu dan dosa-dosa keluargamu. Dan ketika engkau kembali yang ke dua kali, Allah mengampuni dosa-dosa keluarga besarmu (saudara-saudaramu). Maka aku takut jika engkau kembali untuk ke tiga kali Allah akan mengampuni dosa-dosa penduduk kampung ini."



Subhanallah, sungguh Maha Luas ampunan Allah. Maha Kasih, lagi Maha Sempurna karuniaNya.

Teman Anda Juga Membaca: